Dibungkus Rapi dalam Balutan Tubuh Seorang Wanita
Dari seluruh bangunan tempo dulu yang ada di kota ini, menurutku sekolahku yang paling aneh. Bukan karena bentuk bangunannya yang mirip benteng pertahanan dengan dilengkapi kantin sehat. Bukan juga karena nilai historisnya. Karena bangunan ini tidak pernah sekalipun menjadi tempat pembuangan Soekarno. Sekolahku kusebut aneh justru karena fungsinya di masa kini. Pada siang hari sekolahku menjadi tempat yang penuh hikmah, namun saat malam tiba bangunan ini menjadi sarangnya maksiat.
Sudah menjadi rahasia umum kalau daerah di sekitar sekolahku pada malam hari menjadi tempat para banci berkumpul menjajakan hiburan murahan kelas ekonomi. Dan kadang mereka main pedang-pedangan dengan pelanggannya di halaman sekolah. Orang-orang memanggil mereka banci sekolahan.
Aku tahu istilah itu dari seorang teman. Pernah suatu ketika aku mendengar dialog singkat dua teman sekelasku saat tidak ada guru di kelas. Aku tertarik, maka aku dengarkan diam-diam.
“Memang apa asiknya main pedangan-pedangan dengan banci?”
“Tidak tahu, belum pernah coba.”
“Memangnya kamu tidak mau coba?”
“Tidak ah, jijik!”
“Kok banyak ya, orang yang mau main dengan banci sekolahan?”
“Mungkin tidak jijik. Tak tahu lah… ”
“Lalu mengapa ada orang yang mau menjadi banci?”
“Mana aku tahu! Kenapa sih, kok tanya-tanya soal banci melulu? Bapakmu banci ya?”
Dan dialog singkat itu berakhir dengan perkelahian yang sengit.
Aku memang selalu penasaran dengan perilaku menyimpang trans-gender itu. Kadang ingin ku bertanya dan mengobrol dengan salah seorang dari para banci sekolahan itu. Tapi aku urung, aku takut.
Ya, aku memang takut banci, layaknya anak kecil yang takut badut, layaknya pencuri yang takut anjing. Aku takut diperkosa. Bisa saja kan? Toh perilaku mereka memang sudah menyimpang, apalagi yang bisa menahan mereka untuk tidak lebih menyimpang?
Suatu hari aku rapat OSIS hingga larut malam. Azizah, Mirna, Nina, Geri, Halley, Diah, dan aku adalah peserta rapat malam itu. Geri sebenarnya bukan pengurus inti OSIS. Tapi dia bawa mobil.
Seluruh teman-temanku yang perempuan diantar Geri pulang karena sudah terlalu malam, sedangkan Halley juga ikut nebeng karena rumahnya dekat dengan Geri. Tinggallah aku yang tidak bawa kendaraan dan arah pulangnya juga tidak searah dengan siapapun di antara mereka. Biarlah, toh aku kan laki-laki, masa takut pulang sendiri? Lagipula jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Banci belum muncul.
Aku merogoh kocek. Bolong. Tidak kutemukan apa-apa. Lalu kurogoh kocek yang satunya, sebelah kiri. Di situ kutemukan satu lembar uang seratus ribuan. Aku tahu sopir angkot (angkutan kota) pasti ngomel-ngomel kalau aku membayar dengan uang pecahan seratus ribuan. Maka aku sempatkan diriku mampir ke kios Mang Jaja di seberang sekolahku untuk sekedar mencari uang kecil. Yah, walaupun aku ngekos, tapi tetap harus naik angkot. Tempat kosku letaknya lebih ke pinggir kota. Aku tidak mampu bayar sewanya jika harus ngekos di dekat sekolah.
Di jongko kayu kios Mang Jaja duduk seorang wanita cantik dalam balutan kain yang super mini.
“Mang Jaja, rokoknya satu bungkus ya!” Suaranya ngebass.
Glek. Aku ralat. Sepertinya bukan wanita, kurasa banci. Aku mencuri-curi pandang dari balik punggungnya. Kuperhatikan pakaiannya. Norak. Kuperhatikan dandanannya. Norak. Tubuhnya tinggi, kurus. Dia juga menghisap rokok. Yah, tidak salah lagi.
Pasti banci!
Tapi cantik…
Aku ingin cepat-cepat ngibrit dari tempat itu. Aku takut sekali. Tapi apa daya, aku sudah terlanjur memesan teh botol untuk menukarkan uang seratus ribuanku. Dan teh botol itu pun sudah ada di tanganku. Belum kuminum. Mau tidak mau aku duduk dulu di sebelah banci itu. Yah, paling tidak banci yang ini tidak seseram banci-banci pada umumnya. Dan kalaupun dia berani berbuat macam-macam, kan masih ada Mang Jaja. Aku tinggal berteriak sejadi-jadinya.
Hujan mulai turun. Teh botol masih belum kuminum. Sial.
“Dingin?”
Tiba-tiba banci di sebelahku bersuara. Aku hampir berteriak tapi tidak jadi. Pasti akan terlihat bodoh sekali. Alih-alih berteriak, kujawab saja pertanyaannya walau dengan suara yang sedikit tertahan.
“Tidak, aku pakai jaket.”
Si banci tertawa cekikikan.
“Bukan itu maksudku. Apa teh botol yang kamu pegang masih dingin? Punyaku sudah tidak dingin lagi, tadi terlalu lama kudiamkan. Aku suka yang dingin.”
Banci itu cekikikan lagi. Mau tidak mau aku pun ikut tersenyum. Lalu kusodorkan teh botol milikku padanya. Dan dia pun memberikan miliknya.
“Anak SMA sini ya?” Dia menunjuk bangunan sekolahku dengan rokok ditangannya.
“…” Aku diam, cuma mengangguk.
“Dulu aku juga sekolah disini,” katanya sambil terus menghisap rokoknya.
Hah? Gak salah? Kok bisa ada alumni sekolahku jadi banci? Aku tidak habis pikir. Jualan pula… Tapi aku tetap diam. Tidak komentar.
“Dulu aku dan teman-temanku selalu nongkrong di kios ini sepulang sekolah. Biasanya kami nongkrong sampai para banci sekolahan nongol. Kadang-kadang ada juga yang kita gangguin. Hehe.. Masa SMA memang masa yang paling seru.” Dia tersenyum. Matanya menerawang melihat langit.
Aku bingung. Ternyata ada juga banci yang suka mengganggu sesamanya. Tapi aku tetap tidak komentar.
Hatiku mulai berkecamuk. Benakku membayangkan hal-hal liar yang mungkin bisa dilakukan banci itu terhadapku. Yang jelas-jelas banci saja diganggunya juga, apalagi aku yang hanya anak SMA berkacamata. Aku tidak terlalu peduli lagi dengan apa yang dikatakannya, aku hanya ingin hujan cepat berhenti dan lari sekuat-kuatnya. Pergi dari tempat ini!
Tapi tidak jadi.
Sejurus kemudian dia mulai bercerita bahwa dia ternyata adalah mahasiswi tingkat akhir jurusan psikologi yang sedang melakukan observasi lapangan untuk skripsinya. Kebetulan dia mengambil topik tentang alasan seseorang menjadi banci. Dan banci sekolahan lah yang menjadi objek penelitiannya.
Aku kaget! Bagaimana tidak? Menemukan banci yang ternyata perempuan. Itu jauh lebih mengagetkan daripada menemukan seorang perempuan yang ternyata banci. Tapi aku juga lega.
Aku lega karena dua hal. Pertama orang di sebelahku ini ternyata bukan banci. Dan yang kedua, untung tadi tidak teriak.
Aku yang memang sudah lama ingin tahu alasan dibalik bancinya seseorang menjadi antusias mengobrol lebih banyak dengannya. Teh botol di tanganku masih belum kuminum. Alih-alih minum, aku malah keasyikan mengobrol dengan mahasiswi di sebelahku ini sampai mulutku kering.
Dia menjelaskan beberapa teori kemungkinan alasan seseorang menjadi seorang trans-gender: kesalahan genetis sejak lahir, penggunaan zat kimia yang dapat memicu perubahan gen atau hormon secara drastis (seperti mutant!), faktor ekonomi, pengaruh lingkungan, kejadian traumatis di masa lalu, dan pemujaan yang berlebihan terhadap sosok lawan jenis. Berarti dalam kasus banci, dia sangat memuja sosok perempuan. Aku tidak terlalu mengerti, tapi aku mengangguk-angguk saja.
“Banyak untuk alasan yang terakhir tadi?” Aku penasaran.
“Ho, banyak! Mungkin 10 % dari mereka punya alasan seperti itu…”
Buatku 10 % itu kecil, tapi aku tidak mengerti. Maka aku ladeni saja dia.
“Kok bisa ya? Lagipula bukankah sosok pria justru lebih dominan daripada perempuan? Pemimpin dunia sebagian besar pria, para dewa dan Tuhan manusia pun kebanyakan direpresentasikan dengan sosok pria. Bukankah kita ini hidup di bumi yang maskulin?” Aku berlagak sok pintar. Mencoba menyesuaikan bahasaku ke tingkat mahasiswa.
“Keliru besar kamu!” Mahasiswi tadi menghisap rokoknya dan berhenti sejenak.
“Plis mengertilah… Kita bergerak ke arah Venus bukan Mars. Ini bukan lagi bumi. Cobalah kamu perhatikan! Dari sektor politik, kini perempuan yang naik menjadi seorang pemimpin sudah bukan lagi menjadi barang tabu. Disebut hebat barangkali! Kalau pria? Biasa saja, tidak akan ada yang simpatik. Dari sektor sosial, selalu ada teriakan tentang emansipasi wanita yang menuntut persamaan hak. Emansipasi pria? Tidak ada. Padahal pada hakikatnya pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang masing-masing unik. Pada saatnya nanti, akan kita temukan dunia dimana wanita memiliki lebih banyak hak ketimbang pria.” Dia tersenyum sedikit. ”Dari sektor ekonomi, kamu perhatikanlah iklan di televisi! Berapa banyak kamu temukan pria di iklan-iklan? Bandingkan dengan perempuannya! Akan kamu sadari bahwa 90% produk dagang dibuat untuk perempuan. Sehingga persaingan ekonomi kemudian akan lebih banyak ditentukan oleh sekedar instuisi ketimbang hitungan data statistik.” Dia menyeringai. Dihisap lagi rokoknya. Dihembuskannya asapnya kuat-kuat ke udara. Angin bertiup. Aku terbatuk.
Aku mencoba bertahan dengan argumenku, aku masih percaya kalau pendapatku tidak salah.
“Yah, tapi bukankah uraian Mba’ tadi justru menjelaskan bahwa kita berada di state yang maskulin bukannya feminim?” (Masih coba menggunakan bahasa tingkat tinggi. Ingin terlihat pintar barangkali)
Mahasiswi cantik itu malah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang merengut. Menghela nafas panjang. Sepertinya pernyataanku terdengar sangat bodoh di telinganya.
“Kamu benar untuk sesaat. Tapi harus kamu ingat bahwa tidak penting kita berada di mana, yang penting adalah ke arah mana kita bergerak!”
“Dan kamu tahu apa yang lebih mengerikan?” Dia melanjutkan “Kini pria pun semakin feminim. Kalau tidak percaya, tengok sajalah para kaum metroseksual.”
Harus kuakui dia benar. Sebenarnya kami berdua benar, tapi dia lebih benar. Karena aku hanya melihat dari perspektif kekinian. Sedangkan dia melihat dari perspektif masa depan. Otaknya selangkah lebih maju dari otakku. Yah, apa mau dikata, dia mahasiswi, empat tahun lebih tua dariku.
Aku merenung.
Aku minum teh botol yang ada di tanganku (Akhirnya!)
Dia juga merenung.
Dia juga mau minum teh botol yang ada di tangannya.
Tapi tidak jadi. Sudah habis! Maka merokok saja dia.
“Kamu pernah dengar istilah kalau sejarah selalu berulang?” Dia angkat bicara.
“Ya, aku pernah. Tapi aku tidak mengerti.”
“Tak apa, biar kujelaskan! Tapi belikan aku minuman, kerongkonganku sudah mulai kering, sementara punyaku sudah habis dari tadi.”
Aku memesan minuman yang sama, teh botol. Dingin, langsung dari kulkas.
“Dulu dunia ini matriakal bukan patriakal. Dulu sekali, sebelum jaman nuklir, bahkan sebelum manusia bisa menggunakan mesin uap, dimana dunia belum terpolusi seperti sekarang, manusia memuja alam sebagai kekuatan gaib yang harus mereka hormati. Kekuatan alam itu kebanyakan direpresentasikan oleh wujud dewi-dewi dengan logo pentakel Venus sebagai simbol yang saat itu bersifat sangat ketuhanan. Orang-orang yang belum terindoktrinasi dan masih berpegang teguh pada ajaran pedesaan tuanya itu disebut kaum Pagan. Pagan sendiri berasal dari kata paganus yang artinya penduduk negeri. Dan penduduk desa biasanya disebut villain. Tapi kata pentakel, pagan dan villain punya arti negatif pada masa sekarang ini. Kamu tahu sebabnya?”
“…” Aku menggeleng. Mencoba mengerti apa yang mahasiswi itu bicarakan.
“Tentu saja kamu tidak tahu. Kebohongan ini telah dibangun selama berabad-abad lamanya. Semua ini bermula dari buku karangan dua pendeta jerman yang berjudul Malleus Maleficarum, The Hammer of Witches. Kaum agamis di Eropa pada jaman inkuisisi katolik mengejar dan membakar hampir lima juta perempuan yang dianggap penyihir, banyak diantara mereka yang adalah ahli herbal, para sarjana, pendeta wanita, dan bidan yang menggunakan obat penghilang rasa nyeri bagi perempuan yang melahirkan. Pelacur dan kriminal? Tidak usah ditanya, mereka yang paling pertama dibakar. Hanya karena mereka dianggap menyembah alam dan pemuja dewi-dewi. Agama membuka dunia yang pria-sentris dengan menghabisi perempuan-perempuan yang menggunakan potensi dan memuja kelebihan dirinya. Pada intinya agama tidak menerima wanita yang lebih superior dari pada pria. Agama menganggap wanita seharusnya lemah dan selalu membawa kehinaan. Bahkan dalam konsep Adam dan Hawa pun wanita dianggap penghasut yang menyebabkan terusirnya umat manusia dari surga. Padahal secara natural, dunia masa lalu sudah mengakui bahwa wanita memiliki kekuatan tersendiri yang bahkan layak untuk dipuja.”
Aku pusing. Ini lebih terdengar seperti doktrinasi ketimbang penjelasan. Tapi aku coba menanggapi.
“Dalam agamaku tidak!”
“Masa? Apa agamamu?”
“Islam.”
“Sama saja…”
“Beda! Biar kujelaskan bagaimana Islam memandang wanita.”
“Bolehlah aku dengarkan…” Mahasiswi muda itu bersandar pada Kios Mang Jaja.
Aku mengehela nafas. Aku bercerita.
“Dulu, mungkin pada jaman setelah jaman yang Mba’ ceritakan tadi, di negeri Arab, sebelum kedatangan Islam, perbuatan tak berperikemanusiaan dan amoral terjadi di mana-mana. Bayi perempuan dikubur hidup-hidup, para wanita bersetubuh demi bibit unggul, pelacuran berbalut kesucian, dan banyak lagi. Kemudian Islam pun datang dan membebaskan wanita dari semua kehinaan itu.
”Apa yang salah dari bersetubuh demi bibit unggul?”
Aku mengernyit, tapi tak kutanggapi. Kuteruskan saja ceritaku.
“Setelah Islam muncul, ditempatkanlah perempuan di tempat yang terhormat. Seorang perempuan diwanitakan oleh Islam. Dan derajat kemanusiaannya disamakan dengan derajat kemanusiaan laki-laki. Bahkan lebih untuk beberapa hal.”
“Yah, benar… Lalu kenapa keindahan tubuh wanita dalam Islam harus ditutup-tutupi seakan itu adalah nista? Kenapa dalam islam istri harus patuh sepatuh-patuhnya pada suami dan tidak sebaliknya? Kenapa dalam hukum waris perempuan hanya dapat setengah bagian dari laki-laki? Ehm… Sedikit banyak aku juga belajar Islam.” Dia tersenyum. Tapi aku tahu itu tidak tulus. Itu adalah senyum kemenangan yang biasa disunggingkan tokoh-tokoh film setelah menghajar habis lawannya.
“Berarti masih kurang belajarmu. Tidak terpikirkankah kenapa begitu ketat sistem keamanan di bank? Karena disana ada barang berharga. Sama halnya penjagaan aurat pada wanita. Lalu tahukah Mba’ kalau seorang anak harus taat kepada Ibu tiga kali lebihnya ketimbang taat kepada seorang Bapak? Bukankah Ibu itu wanita? Cukup adil bukan? Dan masalah waris…”
“Yah, aku tahu kamu akan jawab apa. Bahwa suami wajib membagi hartanya dengan anak-istri sedangkan istri tidak. Tapi kan pada prakteknya tidak seperti itu.”
“Itu kesalahan individu, jangan salahkan ajarannya.” Aku balas tersenyum. Kurasa jawabanku cukup bijak.
“Yah, terserah saja. Yang jelas aku percaya bahwa perempuan memiliki peran yang tidak bisa dimarginalkan untuk dunia ini.”
“Aku sependapat.” Kataku mengamini pernyatannya.
“Yang mana itu?”
“Yang terakhir. Bahwa peran wanita sungguh besar bagi perkembangan dunia. Banyak pemimpin dunia lahir dari rahim seorang wanita yang luar biasa. Dan banyak juga istri luar biasa dibalik sosok pria yang luar biasa.”
“Hai Dik, jangan kau lupakan banyak juga wanita luar biasa yang muncul menjadi pemimpin dunia. Tidak dosa kan itu?”
“Mba’ percaya dosa juga?”
“Tentu saja percaya. Ada alasan untuk tidak?” Katanya santai.
“Mba’ beragama?”
“Terlalu sulit! Aku penganut aliran kepercayaan…”
“Aliran kepercayaan?” Aku mengernyit. Heran.
“Ya, aku percaya nilai-nilai kemanusiaan…”
“Aku percaya nilai kebenaran…”
“Aku percaya nilai persamaan hak…”
“Aku percaya nilai kebebasan individu… Aku sekuler.”
Mahasiswi itu bertutur amat lancar. Ada gurat keyakinan dalam nada suaranya. Tidak seperti pejabat pemerintahan daerah yang selalu meggunakan kata mungkin saat ditanya bagaimana kondisi rakyat yang dipimpinnya. Dengan lantang dia katakan bahwa dirinya atheis.
“Kalau kamu?” Dia balik bertanya.
Aku tersenyum. Berusaha semanis mungkin. Menutupi kekagetanku atas keatheisannya.
“Aku juga percaya dengan hal-hal yang Mba’ percaya. Hanya saja selain itu aku juga beragama. Dan aku percaya dosa.” (Masih tersenyum)
Dihirupnya rokok yang tinggal setengah di tangannya itu. Dihembuskan pelan-pelan penuh penghayatan, seakan dia menghembuskan seluruh beban hidup yang tidak pernah aku tahu apa itu. Dia lama menatapku, hingga akhirnya kembali tersenyum padaku. Tulus.
Manis sekali.
Aku terhenyak. Cepat-cepat kualihkan pandanganku ke arah jalanan yang masih basah karena gerimis. Jantungku berdegup kencang. Aku kikuk. Tapi tidak lama, kembali kukuasai diriku. Kemudian aku bangkit. Membayar dua teh botol yang tadi kupesan, satu untukku dan satu lagi untuk perempuan itu.
“Sudah mau pulang?” Dia menyalakan lagi sebatang rokok. Entah sudah berapa banyak rokok yang dia habiskan.
“Ya, sudah hampir pukul sebelas. Besok ada PR.”
“Hehe.. Dasar anak SMA” Dia terkekeh. “Tapi kamu pintar, aku suka. Nanti jadilah orang hebat, buat ibumu bangga. Agar ada orang besar yang lahir dari rahimnya.”
Dia menghisap rokoknya.
“Ehm…Kamu tahu? Bisa macam-macam yang terbungkus dalam balutan tubuh perempuan. Bisa banci yang menolak jadi laki-laki, bisa setan seperti aku ini, bisa juga hati seorang Ibu. Tapi jangan kamu marginalkan satu pun dari kami. Ingat nasehatku ini Dik!”
Aku menerima uang receh kembalian hasil belanjaku di Kios Mang Jaja. Aku berjalan menuju perempatan di ujung jalan. Mencari angkot.
Sepanjang jalan aku menitikkan air mata. Aku teringat sesuatu.
Aku tidak ingat lagi banci yang sudah mulai bermunculan di jalanan.
Bukan juga perempuan cantik dalam pakaian mini itu.
Aku ingat Ibu di Jambi. Aku kangen…
Karena buatku, hati seorang ibu adalah kado paling berharga yang Tuhan anugerahkan bagi dunia, yang dibungkus rapi dalam balutan tubuh seorang wanit
ini puisi karangan kamu ya??? ko ga ada sumbernya hehehhehehehheee
BalasHapus