Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
PELUKLAH DADA LELAKI PALING SUNYI
Dan ranting dalam batok kepalamu b ergemeretak.
Menimbulkan denyut yang paling aduh.
Pohon cinta itu rubuh.
Menyemburkan getah kebencian
Pada bisik mesramu;
"Maut berdendang-dendang...
Seperti seruling lengking di ujung m alam."
Sekali ini.
Terimalah uluran tangan edelweisku.
Sekali ini.
Peluklah dada lelaki paling sunyi!
Lentur tubuhmu.
Di atas ranjang sunyiku.
Bunga-bunga gugur.
Kupu-kupu terbang.
Di taman hatiku.
Membiakkan semerbak mawar.
Di lorong panjang rinduku!
Pergumulan dengan perih.
Pergumulan ranjangku.
Kau menari di atas lukaku.
Lalu berlari.
Berlari hingga lorong paling s unyi.
Lorong paling ngeri.
Malam rebah di selangkanganku.
Pergumulan dengan sedih.
Pergumulan airmataku.
Kau mabuk di atas payudaraku.
Lalu mendengus.
Mendengus sehabis-habis dengus.
Ngusss!
Menegur tanah yang mengaku
Udara kering menguapkan basah
Langit meluas burung-burung bergegas
Membawa kabar ke selatan
Matahari tergesa merapikan hari ke barat
Tak ada salam perpisahan
Antara mereka
Terik tadi hanya menitip warna diujung daun
Ranting kering juga di dahan yang pipih
Kita duduk berdesakan seperti hujan
Menghitung genangan air yang baru
Tanah berkedip meredam debu
Aku pergi
Ke persimpangan jalan
Tempat kau temukan jalan pulang
Jalan pulang
Dan aku merenggut kesendirian
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
PELUKLAH DADA LELAKI PALING SUNYI
Dan ranting dalam batok kepalamu b ergemeretak.
Menimbulkan denyut yang paling aduh.
Pohon cinta itu rubuh.
Menyemburkan getah kebencian
Pada bisik mesramu;
"Maut berdendang-dendang...
Seperti seruling lengking di ujung m alam."
Sekali ini.
Terimalah uluran tangan edelweisku.
Sekali ini.
Peluklah dada lelaki paling sunyi!
DI ATAS RANJANG SUNYIKU
Terlalu pasif.Lentur tubuhmu.
Di atas ranjang sunyiku.
Bunga-bunga gugur.
Kupu-kupu terbang.
Di taman hatiku.
Membiakkan semerbak mawar.
Di lorong panjang rinduku!
KAU MENARI DI ATAS LUKAKU
Malam rebah di pangkuanku.Pergumulan dengan perih.
Pergumulan ranjangku.
Kau menari di atas lukaku.
Lalu berlari.
Berlari hingga lorong paling s unyi.
Lorong paling ngeri.
Malam rebah di selangkanganku.
Pergumulan dengan sedih.
Pergumulan airmataku.
Kau mabuk di atas payudaraku.
Lalu mendengus.
Mendengus sehabis-habis dengus.
Ngusss!
Hujan Yang Lalu
Puting-puting hujan jatuhMenegur tanah yang mengaku
Udara kering menguapkan basah
Langit meluas burung-burung bergegas
Membawa kabar ke selatan
Matahari tergesa merapikan hari ke barat
Tak ada salam perpisahan
Antara mereka
Terik tadi hanya menitip warna diujung daun
Ranting kering juga di dahan yang pipih
Kita duduk berdesakan seperti hujan
Menghitung genangan air yang baru
Tanah berkedip meredam debu
Aku pergi
Ke persimpangan jalan
Tempat kau temukan jalan pulang
Jalan pulang
Dan aku merenggut kesendirian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar