Cinta bersemi di telaga sunyi
Perkenalan di Hall Pusat Petualangan....
Pagi ini Anton Gendhewo bangun dari tempat tidurnya, dengan perasaan gembira. Tentu saja Anton Gendhewo hatinya berbunga-bunga, hari ini adalah hari istimewa dalam hidupnya, baru pertama kali dia berkesempatan naik gunung, tahun-tahun lalu, ada saja halangan yang menggagalkan rencana naik gunung. Sambil bergegas menyiapkan perlengkapan, dia tidak lupa menyalakan api kompor gas, dan menyiapkan sesendok kopi dan gula. Tak lupa bersih-bersih badan dan gosok gigi, benar-benar efektif hidup si Anton hari ini, tidak seperti biasanya, hidupnya lebih banyak diisi dengan tidur dan tidur.
"ahh..., ada yang terlupa", gumamnya, diapun membalikkan badan kembali ke kamarnya mengambil beberapa kitab salah satunya kitab suci. Antik juga orang satu ini, walaupun tidur dan tidur makanan pokoknya, tetapi urusan hubungan dengan sang khalik, sedikitpun tak pernah dia remehkan.
"apa lagi ya?, "tanyanya dalam hati, mmmm...."ohh ya...", tiba-tiba dia teringat peralatan PPPK, yang masih tertinggal. Anton Gendhewo memang luar biasa teliti untuk masalah hobinya yang baru ini.
Sepeminum kopi, singkat cerita Anton Gendhewo sudah tiba di depan Pusat Petualang Kampus, "dengan Vespa bututnya, Anton Gendhewo terlihat keren, itu sih menurut dia sendiri...hahahaha", teman teman sering menertawakan penampilannya.
Dengan gayanya yang cuek Anton berjalan mantap menuju ruang persiapan, di sana sudah terlihat teman-teman bagian pendata dan sebagian peserta naik gunung, dengan kesibukannya masing-masing. Anton sekilas menyapu pandangan, dan dia segera menemukan tempat registrasi, bergegas dia menuju ke sana.
Suasana pagi ini di ruang hall Pusat Petualang Kampus cukup ramai, beberapa senior petualang satu persatu datang. Ada satu dua senior yang dikenal Anton, dengan gaya ramah dia menyapa,
"Hei lex, tumben duluan nyampe?!",
"emangnya ente yang biasa datang duluan?hahahaha...", dengan gaya tertawa renyah setengah menyindir kebiasaan Anton Gendhewo yang suka kebablasan tidur, sehingga sering terlambat masuk kuliah. Meski Alex lebih senior di dunia kepetualangan, namun Anton Gendhewo sejatinya lebih senior di bangku kuliah, yah selisih dua tahun begitulah, jadi wajar hubungan mereka tidak ada yang unggul satu sama lain. Namun demikian, mereka adalah manusia-manusia yang cuek perbedaan, tidak peduli mana yang lebih senior.
Namun kali ini ada sesuatu yang membuat Anton agak berdesir jantungnya, di sebelah Alex berdiri perempuan tinggi semampai, cantik, dengan bola matanya seolah-olah mampu menyedot jantung siapapun yang dipandang. Suara Alex memecah kekakuan suasana sesaat,"Ton, kenalkan adikku...."., wanita itupun menyorongkan tangannya yang nampak putih seputih salju, terlihat lembut selembut sutra, tetapi seperti kebiasaan Anton apabila bertemu wanita, dia hanya menangkupkan kedua telapak tangan ke depan dada, wanita itupun segera mengerti dan mengucap salam kenal
"Adelia..., "
"Anton ...lengkapnya Anton Gendhewa", sahut Anton
"Kuliah di mana dik?,"
"Di sini saja mas, di manajemen",
"Semester berapa?",
"baru tahun ini mas...",
"oo..., mengantar mas Alex ya?",
"ehem hemm...., ya..ya".
Bagian II
seruang rasa ada...
bergumpal kerisauan di hati
harum bunga menggoda
sesaat hati berhasrat
tak kuasa gelegak menyeruak.......
"hei..., pagi2 kok sudah bengong kayak patung!", teriak Eddy Kriwul membuat Anton Gendhewa terlepas dari lamunan. Sedari tadi pagi, sebenarnya Eddy Kriwul sudah mengamati kedatangan Anton, mendengar suara knalpot vespa yang khas, sahabat-sahabat Anton sudah tahu itu vespanya Anton Gendhewa. Kebetulan Eddy melihat perkenalan sahabatnya itu dengan pacar si Alex. "sudahlah, gak usah dipikir amat, dia sudah ada yang punya....he he he", ejekan Eddy sepertinya tepat sasaran.
"tahu saja kamu Wul, dari mana kamu tahu kalau aku lagi terganggu sama cewek..", selidik Anton Gendhewa. "ah...gampang saja aku tahu, coba lihat telapak tanganmu....", Eddy Kriwul sok bergaya kayak tukang ramal palmistry. "Hemmm....gak bakalan kamu dapat si dia!", ramal Eddy. "Kenapa?", tanya Anton,
"lihat saja nih..., garis di tengah tanganmu ini terputus!"
"sok tahu kamu Wul, sudahlah aku tak percaya sama ramalanmu!",
"ya sudah kalau tak percaya..", jawab Eddy enteng.
"ngomong-ngomong kamu tahu tidak? siapa yang di sebelah Alex?", lanjut Eddy.
"ya..ya, aku tahu barusan tadi waktu aku baru datang..., namanya Adelia"
"cekatan kamu Ton, kalau urusan kenalan sama cewek ..."
"ah...bisa saja kamu Wul, itu pas kebetulan, bukan aku yang kayak kamu, jangankan cewek cantik, sama kambingpun kamu kejar...hehehe", gantian Anton meledek Eddy Kriwul
"kan gurunya kamu...kek kek kek", balas Eddy
"eh Ton, aku sebagai sahabat cuma bisa menasehati, jangan sekali-kali mendekati cewek itu, dia adalah ceweknya Alex..."
"ah yang benar..., kata Alex dia Alex dia adiknya"
"ton...ton, kamu ini kuper banget sih, itu kata halusnya pacar..tau???"
Bagai ayam betina tertangkap ayam jago, Antonpun tak berkutik, kalah satu kosong sama si Kriwul. "Terimakasih ya Wul, kamu mengingatkan....", jawab Anton Gendhewa sambil berjalan gontai. "hai...hai ..hai mau kemana? aku ikut!", teriak Eddy Kriwul
Sepeminum kopi, lengkap sudah empat sekawan yakni Anton Gendhewa, Eddy Kriwul, Baroto Gingsul, dan Yo Wagu, tengah asyik bercengkerama di warung kopi yang terletak di depan Pusat Petualang Kampus. Meski mereka berbeda Fakultas atau Jurusan, namun mereka satu tempat kos2an. Berbeda dengan anggota Petualang Kampus lain yang terlihat perlente dan elit, mereka tergolong mahasiswa dengan level ekonomi menengah ke bawah. Mereka hampir-hampir tidak bisa makan dan minum di kantin Kampus yang memiliki tarif mahal, menurut pikiran mereka. Mereka lebih memilih warung-warung di pinggir jalan, yang menurut mereka sepaham dan sejalan dengan prinsip-prinsip proletarianisme. Ahhh ...itu sih sekedar pembelaan diri saja, sejatinya mereka adalah mahasiswa yang siap puasa senin kamis, karena ikhlas maupun terpaksa, terpaksa karena jatah bulanan selalu habis di pertengahan bulan. Mereka sanggup berlapar-lapar ria, cukup dengan beberapa ekor ikan asin yang digantungkan di tengah-tengah ruang dapur, mereka bertahan. Teknisnya, apabila kalender telah menunjukkan tanggal-tanggal 15 ke atas, mereka menanak nasi, sedangkan lauknya sekerat potongan ikan asin, sengaja ikan asin ditempatkan di tengah-tengah ruang dapur, agar tidak terjangkau pesaing budiman yakni kucing, dan segala macam serangga, dan untuk mempermudah untuk dipotong dengan gunting, kemudian dibakar.
Untunglah mereka hidup di lingkungan yang sangat bersahabat, dan merekapun ringan tangan, mau membantu siapa saja yang membutuhkan tenaga dan pikiran. Tanpa pasang tarif dan tanpa syarat apapun. Contohnya si Kriwul, pada suatu hari pada saat dia tidur pulas, ada kebakaran, tanpa pikir panjang si Kriwul segera bangun dari tempat tidur dan tergopoh-gopoh mencari ember dan mengisinya dengan air, dan iapun celingukan mencari sumber kebakaran, "mana..mana apinya...mana", orang serumahpun tidak dapat menahan ketawa,"hahahaha..hahhaha..., mas Kriwul mas Kriwul..., itu kan hanya sinetron di TV...hahahaha..hahaha," meledaklah ketawa teman-temannya. Lain lagi cerita Baroto Gingsul, meski Baroto Gingsul itu pendiam, tapi dia cukup disegani cewek-cewek kampung, disamping senyumnya manis, dia punya ilmu pelet 'wakadol kebo gupak', ..hehehehe...ini sih rekaan teman-temannya saja yang sirik. Baroto Gingsul memang anak yang cerdas, setiap cewek-cewek SMA punya persoalan pelajaran, bisa dipastikan si Gingsul yang menyelesaikan, wajar saja kalau dia selalu dekat dengan cewek-cewek. Sementara Yo Wagu, memang benar-benar wagu, dia asli lampung, namun lebih suka memaksakan diri berbahasa Jawa. Suatu saat di Kampus, karena ada suatu dan lain hal dia tertinggal dengan teman-temannya yang sudah pulang terlebih dahulu. untung didompetnya masih ada uang receh,"bang...bang becak kesini!!!", teriak Yo Wagu. Setelah becak merapat,
"piro kidul pasar kono?(berapa ke selatan pasar?)", tanya dia
"kalih atus mawon mas...(dua ratus rupiah saja mas...)"
"ahhh...kok larang ...limang atus wae yo?(ahhh...kok mahal amat....limaratus saja ya?)"
tanpa pikir panjang, bang becakpun mengangguk tanda bersedia.
sesampainya di tempat kos-kosan, dengan bangganya dia bercerita, kalau dia berhasil menawar dengan menggunakan bahasa Jawa. Tanpa menunggu komando teman-temanyapun tertawa terbahak-bahak...hahahahahaha...hahahahaaha....hahahahaa. Iya saja, teman-temannya menertawakan cerita konyol Yo Wagu," Ada-ada saja kamu Yo masak duaratus rupiah ditawar limaratus rupiah, ia saja bang becak pasti mau", celetuk Kriwul. Suasana penuh kekonyolan, keceriaan, berbaur dengan keakraban yang unik, membuat mereka semakin merasa senasib dan sepenanggungan.
Bagian 3
Pertemuan pertama yang menggoda.......
"mas, itu tadi teman mas yang mana? rasanya aku kok belum pernah lihat?", tanya Adelia
"yang mana?"
"itu lho...yang..mmm..namanya Anton...Anton...mmm", Adelia mencoba mengingat-ingat, tapi tak ingat juga
"Ooo...Anton Gendhewa maksudmu?,"
"Ya..iya mas..., aneh juga ya namanya"
"Dia itu anak Teknik Elektro, semester 9, nama aslinya bukan Anton Gendhewa, itu hanya nama panggilan teman-teman akrabnya. Kalau nama aslinya aku tidak tahu..., kata teman-temannya tambahan Gendhewa, karena sifatnya yang mudah mengalah dan suka mengorbitkan orang lain, jadi mirip busur panah, yang melesat itu anak panah, tetapi busur disamping hanya dijadikan pijakan, dia selalu di tempat, busur bahasa jawanya gendhewa, memang ada apa dengan dia?"
"mas cemburu ya?"
"Hati-hati sama dia, dia itu pandai, handsome, mudah bergaul, dan baik hati ,tentu saja aku mesti pasang kuda-kuda", jawab Alex sambil tersenyum.
"sudahlah...sekarang kita siap-siap, apa-apa yang harus kita bawa, termasuk memisahkan barang-barang yang kita bawa untuk sebagian diserahkan Anton",
"lho mas...kok ada yang mesti dibawa dia ya?", entah bagaimana jantung Adelia tiba-tiba berdegup senang manakala disebut nama Anton.
"pihak Universitas mengizinkan kita mengadakan acara ini, dengan prasyarat harus memiliki nilai tambah, salah satu nilai tambah dari kita ya ini", Alex berusaha menunjukkan dengan cara mengeluarkan barang-barang elektronik yang telah dibeli sewaktu pergi ke Jakarta, ada seperangkat solar cell, yang akan digunakan sebagai energi alternatif untuk berbagai keperluan seperti; mengisi ulang batere handphone, dry cell/aki kering untuk menyimpan energi yang dihasilkan, dan komponen-komponen lain, termasuk kabel-kabel listrik, bohlam, serta alat-alat yang cukup rumit bagi orang awam untuk mengenalinya.
"Kok aku diajak juga to mas?, khan tidak ada hubungannya dengan jurusanku..", Adelia berpura-pura menolak acara ini, padahal hatinya senang sekali, ketika alex mengajaknya ikut.
"Kamu kan tahu sendiri, aku ini pencemburu, kalau kamu mas tinggal disini, siapa yang mengawasimu tiap hari?",
"Ya sudah, meski buatku acara ini berat .....jalan kaki ya mas?"
"dasar anak manja, memangnya naik gunung mau naik mobil?",
Begitulah, persiapan naik gunung telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh para peserta. Adeliapun bersemangat membantu Alex menyiapkan properti yang harus dibawa, tentunya dia memperhatikan properti yang akan diserahkan kepada Anton, ingin sekali rasanya ia bertemu Anton, entah kenapa.
Sejurus kemudian, para peserta yang jumlah tidak lebih dari 50 orang, telah berkumpul di aula. Adelia bergegas mengambil inisiatif,
"mas Alex...mas Alex!!"
"ada apa?"
"kuserahkan ke mas Anton ya, ransel ini?"
"ya..ya", jawab Alex singkat, tanpa memperhatikan Adelia yang terlihat cerah raut mukanya. Alex sangat sibuk sekali mengatur kelompoknya, oh ya...Alex adalah mahasiswa jurusan arsitek semester 5, membawa misi pelestarian alam dengan program penataan hunian di di lereng-lereng gunung. Adapun dia membawa alat-alat elektronik, karena sekalian dia pergi ke jakarta membelikan kebutuhan rekan-rekan jurusan elektronik. Meskipun program-program yang diusung sepintas terlihat berbeda, namun satu dan lain program sebenarnya saling mendukung dan berkaitan, contohnya seperti program anak-anak elektro dan arsitektur, pada penataan pemukiman di lereng-lereng gunung yang jauh dari jangkauan pelayanan listrik oleh negara, dapat dipenuhi kebutuhan listriknya melalui pengadaan listrik bertenaga matahari, yang programnya ada pada anak-anak elektro.
Karena menariknya program-program yang diusung pada acara naik gunung kali ini, maka sang Rektorpun merasa berkepentingan untuk membuka sendiri ceremonial pemberangkatan para petualang ini.
Pada pertengahan acara ceremoni pelepasan, tiba-tiba terdengar bunyi keras, semua hadirin secara refleks mencari sumber bunyi, ternyata bunyi itu berasal dari pintu utama, gara-garanya adalah si Gingsul, yang tergopoh-gopoh lari ingin mengikuti kegiatan pelepasan, tidak memperhatikan pintu masuk yang terbuat dari kaca penuh, diapun menabrak pintu kaca, beruntung pintu kacaya cukup kuat menahan benturan, sehingga kaca pintu tidak pecah. "Ada ada saja Baroto, sudah terlambat bikin kegaduhan pula!!", teriak Boy salah satu peserta kegiatan ini, setelah acara ceremoni pelepasan selesai.
"anak itu semestinya tidak diperbolehkan ikut acara, terbukti tidak disiplin!!!", lanjutnya
"???", Antonpun mengernyitkan dahi,
"Sul, kamu kemana saja sih?, tadi kan sama teman-teman ....kok terlambat masuk ke aula?", pertanyaan sekaligus nada membela sahabat terlontar dari mulut Anton.
"eh...iya Ton, aslinya sih aku tidak terlambat, barusan isi perutku susah diajak kompromi nih!",jawab Gingsul sambil cengengesan.
"makanya...lain kali kalau ada apa apa mestinya panitia dikasih tahu", nasehat Anton.
"ah itu sih alasan, aku gak percaya!!", teriak Boy penasaran.
"Hei...kamu ingin cari gara-gara ya?!", teriak Eddy Kriwul tidak kalah lantang.
"Siapa yang cari gara-gara?, itu tu temanmu yang cari gara-gara, sudah datangnya terlambat, ngacau acara lagi!!", bantah Boy sambil celingukan seolah mencari dukungan, namun tak satupun yang berani berkomentar. Boy memang dikenal anak oportunis, sebenarnya tidak gap antara anak-anak kalangan berada dengan anak-anak mahasiswa kalangan menengah ke bawah. Hanya karena tahu diri, anak-anak kalangan menengah ke bawah mengelompok secara alami, mereka tidak bisa mengikuti gaya hidup anak-anak 'the have', jangankan cara hidup sehari-hari, cara pandang dan cara berfikirpun jauh berbeda...., Nah anak mahasiswa seperti Boy sih tidak banyak, mereka terbiasa memanfaatkan materi anak-anak kalangan berada, dengan menghalalkan berbagai cara, bahkan cara-cara kejipun dilakukan, yang penting mereka senang, seperti kasus sekarang ini, boy berusaha menjelek-jelekkan walau Baroto Gingsul notabene teman sendiri...
Tanpa sepatah kata, Anton menggelendeng Baroto ke luar ruangan, berusaha meredakan suasana. "sudahlah, tidak usah ditanggapi ocehannya, lebih baik kita cek ulang apa-apa yang harus dibawa", nasehat Anton kepada Baroto Gingsul.
Sambil terengah-engah Adelia berlari kecil membawa ransel perlengkapan kelompok Anton,
"Mas Anton ...mas Anton...", panggil Adelia, Antonpun menoleh,
"Ada apa dik?"
"Ini mas .., titipan dari mas Alex!", jawab Adelia sambil mengatur nafas, entah karena berlarian tadi, atau ada perasaan lain yang membuatnya harus mengontrol degup jantung. Dia sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya begitu berbunga apabila bertemu Anton.
"Oh ya.., terimakasih", jawab anton pendek, tanpa berani menatap sepasang mata indah Adelia. "mmm...sama-sama",Adelia berdiri diam terpaku menatap lelaki di depannya yang terlihat kokoh perkasa tapi cuek, ingin rasanya ngobrol begitu lama, namun apa daya, yang dihadapi adalah sosok yang dingin sedingin es, ingin rasanya berinisiatif untuk memulai pembicaraan, namun hati kecilnya berkata,"Apa kau gak malu?, wanita koq yang duluan, gengsi sedikit dong!!. Dengan membawa perasaan mengganjal Adelia membalikkan tubuh dan kembali ke tempatnya semula.
Sesungguhnya, Antonpun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu Adelia, namun ia teringat ucapan Eddy Kriwul, kalau Adelia adalah pacar Alex. Meskipun, itu keterangan itu tidak seratus persen benar, sebagai lelaki pantang buat dia untuk menjadi pecundang. Anton menghela nafas sambil bergumam,"hmmmm...benar-benar cantik, tapi.....". Ketertegunan Anton buyar, setelah terdengar melalui megaphone, ketua Ekspedisi mengumumkan, bahwa peserta untuk segera menaiki bus yang telah disediakan di halaman kampus.
Pagi ini tidak ada kegiatan kampus yang lain, semua perhatian warga kampus sangat berharap bahwa, misi ekspedisi kali ini, akan membawa dan menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan, minimal citra kampus, akan kembali bersinar, setelah redup beberapa lama.
Pak Rektor tak henti-hentinya terus memompa semangat peserta, bukannya tanpa pamrih. keberhasilan anak-anak ekspedisi bisa mengangkat popularitas dirinya, sehingga diharapkan pada saat pencalonan gubernur nanti, secara signifikan akan menaikkan angka perolehan pencoblos.
Lain Pak rektor, lain lagi alasan Pak Dekan
Lain Pak Dekan, lain lagi alasan Pak Ketua Jurusan
Lain Pak Ketua Jurusan, lain lagi alasan Dosen-dosen pembimbing
Yang berbeda hanya Mbah Kromo sahabat Anton Gendhewa, yang tetap tidak berubah, meski panas berganti hujan, hujan berganti panas...dia tetap istiqomah menjalankan tugasnya yang mulia, yakni membersihkan sampah-sampah orang-orang yang merasa terhormat, orang-orang yang merasa berjasa, orang-orang yang merasa besar, karena isi kantongnya memang tebal, sehingga apapun bisa dibeli, siapapun bisa disuruh dan dikunci mati, kecuali mbah Kromo ini, meski papa adanya, tapi harkat dan martabatnya tak bisa ditukar dengan sepotong roti, lebik baik perut diganjal dengan batu, daripada makan roti pemberian tak ikhlas, dari orang-orang berhati culas, pikirnya.
Bukan karena berburuk sangka Mbah Kromo bersikap seperti itu, bukan karena sok suci, atau bahkan bukannya Mbah Kromo tak mau kaya dan tak punya keinginan menjadi orang yang terhormat dan berada. Tetapi karena kecintaannya kepada sang Khalik, membuat dirinya selalu hati-hati dalam melangkah. Karena kecintaannya kepada sang Khalik, dirinya rela menerima takdir rejeki yang telah dicatat dan diserahkan untuknya, tanpa mengurangi tekad untuk selalu berikhtiar mencari rejeki. Karena kecintaannya kepada sang Khalik, dia tidak berani mengambil secuilpun sesuatu yang bukan haknya....karenanya, tanpa dia sadari, telah terbuka pintu-pintu hijab yang membatas, telah tersibak tirai-tirai yang menutupi. Karenanya tanpa dia sadari, hatinya selalu diliputi perasaan bahagia. Karenanya tanpa dia sadari, telah pergi rasa dengki di dalam dirinya. Karenanya tanpa dia sadari, kehadirannya adalah anugerah di atas semua anugerah yang pernah ada di dunia ini.....
Sebelum berangkat Anton Gendhewa menghampiri Mbah Kromo untuk sekedar berpamitan, "Mbah, aku berangkat dulu ya?! mohon doanya...",
"Ya..., sing ati2 yo mas", jawab Mbah Kromo tulus. Hati Antonpun lega, entah kenapa dirinya selalu merasa ada yang kurang, apabila belum berpamitan dengan Mbah Kromo. Mbah Kromo buat Anton lebih dari sekedar dosen, apalagi tukang kebun semata, Mbah Kromo adalah sosok yang sangat menginspirasi hidup, Mbah Kromo adalah tauladan yang tak habis-habis untuk digali ketauladannya.
Bagian ke-3
Kesenyapan hati.......
di keteduhan, dan rerimbunan,
engkau berlindung dari bising dunia
di keleluasaan, dan kemerdekaan,
engkau penjarakan nafas-nafas nafsu
di seonggok sampah, dan dedebuan, engkau bersihkan hati...
"Alhamdulillah...", sambil menyeka keringat yang mengucur deras di wajahnya, Mbah Kromo bersyukur telah menyelesaikan semua kewajiban pagi ini, meski dari perkerjaannya nyaris tak pernah memperoleh medali apalagi piagam, Mbah Kromo tidak mempermasalahkan. Bagi Mbah Kromo, apa-apa yang telah digariskan untuknya, adalah suatu karunia dan nikmat yang tak terhingga dari tuhan, dan sepatutnya selalu disyukuri.
Sepeminum kopi, Mbah Kromo seperti hari-hari yang lalu, secara rutin mengamalkan sembahyang dhuha....., musholla yang berdiri di pinggiran kampus, memang tempat ideal, bagi pencari ketenangan, pohon-pohon besar berjajar rapi di samping-samping musholla menambah kesan rindang dan sejuk. Meski berukuran kecil musholla ini selalu bersih, karena Mbah Kromo bersedia membersihkan dan menata mushalla seperti rumahnya sendiri, sesekali Anton membantu, baik finansial maupun tenaga.
Hari ini, Mbah Kromo terlihat khusyuk,"Ya Allah..., lindungilah hambamu Anton dari marabahaya yang mengancam, Ya Allah.....". Terasa aneh juga doa Mbah Kromo kali ini..., karena ada penggalan-penggalan doa yang dia khususkan, terutama buat Anton Gendhewa.
Anton Gendhewa di mata Mbah Kromo seperti anak sendiri, sudah bertahun-tahun Mbah Kromo ditinggal anak istri. Menurut penuturan Mbah Kromo, di kala senggang bersama Anton Gendhewa di bawah pohon rindang dekat musholla.
"Dulu, bapak punya keluarga seperti kalian. Keluarga kami termasuk berkecukupan, bahkan mungkin kekayaan kami melebihi apa yang dipunyai keluarga teman-teman mas Anton sekalipun...ahhh kenapa kok bapak harus ceritakan ini ke mas Anton ya?"
"silakan lanjutkan mBah..., barangkali ada hikmahnya buat saya"
"Baiklah, ...meski kami diberi rejeki yang melimpah-ruah, namun keluarga kami bukanlah keluarga yang bisa mensyukuri nikmat hidup serba berkecukupan, berapapun uang yang bapak keluarkan tak sanggup membuat kami bahagia...., gaya hidup kota metropolitan yang serba gemerlap telah menenggelamkan anak istriku...", sesekali mBah Kromo menghela nafas dan menahan rasa getir...
"Istriku mulai mengenal kehidupan jetset, ketika berkenalan dengan ibu-ibu pejabat dan artis-artis ibukota, jangankan mengurus pendidikan anak-anak atau mengurus dapur...mengurus diri sendiri saja susah...bapak sebagai pengusaha, jelas tidak punya waktu sedikitpun buat keluarga, dan ahirnya, semua pekerjaan terpaksa harus diwakilkan ke pembantu, atau biro jasa-biro jasa...sewaktu anak-anakku masih kecil, mereka terbiasa di asuh oleh baby sitter, kebutuhan apapun tidak pernah langsung ditangani sendiri, cukup dengan mengeluarkan uang semua beres...demikian pola pikir di kepala kami sekeluarga...hingga pada suatu saat...satu per satu musibah menimpa bisnisku, karena keserakahan, bisnis yang sudah mapan, rasanya masih kurang, ada penawaran untuk membuka bisnis plastik seal yang cukup menggiurkan tingkat keuntungannya, bayangkan dengan segenggam biji plastik yang cuma seharga ratusan rupiah, kalau diolah bisa ribuan bahkan ratusan ribu rupiah hasilnya. Nah, untuk membangun pabrik itu dibutuhkan dana yang tidak sedikit waktu itu, sebagai alternatif modal tambahan, tanpa mengganggu uang perusahaanku, aku pinjam ke bank pemerintah. Seumur-umur aku mengenal bank baru kali ini, sebelumnya perusahaanku aku jalankan dengan modal dari saku sendiri. Dengan optimisme tinggi aku bangun pabrik baru, meski pinjaman bank belum cair, setelah ditunggu sekian lama ..pinjaman bank belum cair-cair juga, sementara perusahaan plastik harus berjalan, terlambat beroperasi sejam atau sedetikpun bisa mengganggu kelancaran produksi, dengan kata lain, pabrik harus beroperasi selama 24 jam alias nonstop. Setiap aku datangi, petugas bank selalu beralasan, dan kebetulan pada saat itu pemerintah sedang menjalankan program 'tied money program', yakni program pengetatan uang...entahlah bermanfaat buat siapa program ini, yang jelas aku merasa diperlakukan tidak adil, banyak pengusaha-pengusaha yang terbiasa pinjam uang bank keluar masuk dengan mudahnya memperoleh pinjaman. Karena aku terdesak dengan kebutuhan tambahan modal akhirnya aku terjerumus ke dalam jerat rentenir berkedok petugas...
"Pak Kromo, kalau bapak berkenan..., bisa mengajukan pinjaman ke teman saya. satu hari bisa cair kok pak, apalagi bapak sudah punya proposal usaha di sini..."
"mmmm....tentu saja saya mau..", jawab aku polos
"ya pak..., bunganya beda sedikit kok pak, hanya 23%.."
Akupun terperanjat dan menelan ludah, "busyett...gila bener...", bisikku dalam hati. Kebutuhan operasional pabrik yang begitu mendesak, membuat aku tidak berfikir panjang untuk menandatangani kesepakatan yang disodorkan petugas, bahkan hari itu juga uang bisa dicairkan...luar biasa!!! cara kerja para rentenir ini...pikirku. Aku berharap bisnis baruku ini lancar tidak terkendala apapun, sekali terganjal masalah, habislah kerajaan bisnisku.
Kekhawatiranku perlahan-lahan mulai terbukti, bagian pemasaran membuatku menuai masalah pertama, pemasaran yang tadinya lancar, mulai dikhianati oleh supervisor-supervisor nakal, bekerja-sama dengan bagian akunting pelanggan, tagihan demi tagihan dibawa lari.....dan akhirnya akupun tidak bisa menutup kewajiban ke bank...., aset yang aku agunkan mulai disita satu persatu...
Istriku, yang sudah terbiasa hidup mewah...., pergi entah kemana, anakku pun dibawanya...waktu itu anakku masih kecil, kalaupun masih diberi umur panjang, seumuran dengan nak Anton..",
Mbah Kromo tidak bisa melanjutkan ceritanya, tak terasa air mata meleleh di pipi, dan sesekali menahan nafas....
"Mbah?....sudahlah Mbah jangan larut di kesedihan, anggap saja saya pengganti anaknnya Mbah..", celetuk Anton Gendhewa.
"yang penting sekarang Mbah Kromo masih diberi kesempatan untuk hidup lebih baik lagi...ya khan mBah?!", lanjut Anton, setengah menasehati. Mbah Kromo mengangguk pelan tanda sepakat dengan apa yang Anton Gendhewa katakan.
by: aprianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar